Salam Greensmille
22
april 2013
Adalah
Syech Hasanuddin, putra ulama Perguruan Islam di Campa bernama Syech Yussuf
Siddik yang masih garis keturunan dengan Syech Jamaludin, Ulama Besar Mekkah
Saudi Arabia. Bahkan menurut sumber lain garis keturunanannya sampai kepada
Syaidina Husein bin Syaidina Ali ra, menantu Rosulullah SAW. Menurut
"Babad Tanah Jawa", pesantren pertama di Jawa Barat adalah Pesantren
Quro yang terletak di Tanjungpura Karawang Barat. Pesantren ini didirikan Syech
Hasanuddin, seorang ulama dari Campa (Vietnam), pada tahun 1412 Saka atau 1491
Masehi. Karena pesantrennya bernama Quro, Syech Hasanuddin belakangan dikenal
dengan nama Syech Quro. Awalnya, Syech Hasanuddin datang ke Pulau Jawa sebagai
utusan. Ia datang bersama rombongannya dengan menumpang kapal yang dipimpin
Laksamana Cheng Ho dalam perjalanan menuju Majapahit.
Dalam pelayarannya, suatu ketika armada Cheng Ho tiba didaerah Tanjungpura,
Karawang. Sementara rombongan lain meneruskan perjalanan, Syech Hasanuddin
beserta para pengiringnya turun di Karawang dan menetap di kota ini. Ke
Pelabuhan Karawang rombongan Syech Quro dengan dua perahunya itu singgah yang
menurut buku Rintisan Sejarah Masa Silam Jawa Barat terbitan 1983 disebut Pura
Dalem. Artinya kota (pura) yang mempunyai kegiatan tugas pemerintah dibawah
kewenangan jabatan Dalem. Rombongan Ulama tersebut menjungjung peraturan kota
pelabuhan yang dikunjunginya. Sehingga aparat setempat menghormati dan
memberikan izin untuk mendirikan mushola, pesantren dan tempat tinggal. Lokasi
yang dipilih tidak jauh dengan pelabuhan Karawang yang sekarang disebut kota
Tanjung Pura.
SYECH QURO MENIKAH
Di Karawang, Syech Hasanuddin menikahi gadis setempat yang bernama Ratna
Sondari yang merupakan putri Ki Gedeng Karawang. Ditempat inilah, Syech
Hasanuddin kemudian membuka pesantren yang diberi nama Pesantren Quro yang
khusus mengajarkan Al-Quran. Inilah awal Syech Hasanuddin digelari Syech Quro
atau Syech yang mengajarkan Al-Quran.
Dari sekian banyak santrinya, ada beberapa nama besar yang ikut pesantrennya.
Antara lain Putri Subang Larang, anak Ki Gedeng Tapa, penguasa Kerajaan
Singapura, sebuah kota pelabuhan disebelah utara Muarajati, Cirebon. Putri
Subang Larang inilah yang kemudian menikah dengan Prabu Siliwangi, penguasa
kerajaan Sunda Padjadjaran.
Kesuksesan Syech Hasanuddin menyebarkan agama Islam karena ia menyampaikan
ajaran Islam dengan penuh kedamaian, tanpa paksaan dan kekerasan. Begitulah
caranya mengajarkan Islam kepada masyarakat yang saat itu berada dibawah
kekuasaan Raja Padjadjaran yang didominasi ajaran Hindu.
Karena sifat yang damai inilah, Islam diminati oleh para penduduk sekitar.
Tanpa waktu lama, Islam berkembang pesat sehingga pada tahun 1416, Syekh
Hasanuddin kemudian mendirikan pesantren pertama di tempat ini.
DITENTANG PENGUASA PADJADJARAN
Berdirinya pesantren menuai reaksi keras dari para resi. Hal ini tertulis dalam
Kitab Sanghyang Sikshakanda Ng Kareksyan. Pesatnya perkembangan ajaran Islam
membuat para resi ketakutan agama mereka akan ditinggalkan. Kegiatan pesantren
Quro yang lokasinya tidak jauh dengan Pelabuhan Karawang, rupanya kurang
berkembang karena tidak mendapatkan dukungan dari Kerajaan Padjadjaran. Hal
tersebut dimaklumi oleh Syech Quro, sehingga pengajian pesantren dikurangi dan
kegiatan mesjid dititikberatkan kepada ibadah seperti sholat berjamaah.
Kemudian para santri yang sudah berpengalaman disebarkan kepedesaan terutama
bagian selatan ke Pangkalan dan kebagian Utara ke Rawamerta, Cilamaya. Banyak
hal yang menarik dalam cara penyebarannya:
1. Sebelum menyampaikan ajaran Islam, dibangun terlebih dahulu mesjid, seperti
dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, sewaktu hijrah ke Madinah, maka beliau
membangun Mesjid Quba
2. Dalam menyampaikan ajaran Islam ditempuhnya melalui pendekatan Dakwah Bil
Hikmah, sebagaimana Firman Allah dalam Al-Quran surat XVI An Nahl ayat 125,
yang artinya : "Serulah kejalan Tuhanmu dengan hikmah(kebijaksanaan) dan
dengan pelajaran yang baik, dan bertukar fikiranlah dengan mereka dengan cara
yang terbaik."
3. Sebelum memulai dakwahnya, telah disiapkan kader penyebar Agama Islam
(Mubaligh-Mubalighoh) yang mampu berhubungan dengan masyarakat, dengan
memperhatikan situasi kondisi masyarakat dan menghormati adat istiadat penduduk
yang didatanginya.
4. Pengabdian Syech Quro dengan para santrinya dan para Ulama generasi
penerusnya adalah "menyalakan pelita Islam", sehingga sinarnya
memancarkan terus di bumi Karawang dan sekitarnya.
Syech Quro berhasil melewati semua tantangan tersebut dan terus mengembangkan
agama Islam di Karawang sampai akhir hayatnya. Makam Syech Quro terletak di
Dusun Pulobata Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Wadas Kabupaten Karawang.
Lokasi makam penyebar agama Islam tertua, yang konon lebih dulu dibandingkan
Wali Songo tersebut, berada sekitar 30 km ke wilayah timur laut dari pusat Kota
Karawang.
Sayangnya, hingga kini belum ada yang mengetahui persis tanggal kematian Syech
Quro. Bahkan, dalam batu nisannya pun tidak tertera tanggal kematian ulama
besar tersebut.